Kisah Haru Pengantin Dengan Mas Kawin Rp 100 ribu, kamu berani tiru?

Cerita ini langsung viral dan 'menampar' banyak orang yang merasa menunda-nunda pernikahan cuma karena alasan biaya.




Pernikahan tentu menjadi tujuan utama bagi setiap pasangan. Namun terkadang tuntutan mahar atau mas kawin yang tak sedikit membuat banyak orang terpaksa menunda niat tulus tersebut.

Meski begitu, nggak semua orang punya prinsip harus mendapat mahar yang banyak saat menikah. Contohnya seperti kisah pernikahan pasangan berikut ini.

Nita Junita, wanita yang berasal dari Bekasi ini menceritakan bagaimana ia dipinang oleh kekasihnya dengan mas kawin Rp 100 ribu. Tentu jumlah yang tidak begitu banyak di zaman serba mahal seperti sekarang ini.

Kisah sederhananya pun viral di dunia maya, dan 'menampar' banyak orang yang merasa menunda-nunda pernikahan karena alasan biaya. Berikut kisahnya sebagaimana diceritakan Nita lewat akun media sosialnya, dikutip brilio.net, Kamis (2/2).

"Mas kawin 100 ribu rupiah Tuuuunaaaii...

delapan tahun lalu, saya menikah dengan pria berumur 23 tahun yg 6 bulan lebih muda dr saya. Pria itu jauh dari kata mapan, mas kawin pun hanya 100 ribu rupiah. Bukan karena dia ga mampu untuk kasih lebih dari itu, tapi emang saya yg minta.



Saat booming mas kawin dengan angka cantik, nikah 1 Februari 2009 mas kawin 1.022.009 itu lagi jadi tren di indonesia saat itu. Saya cuma mikir, kasian alm. bapak kalau harus ngucapin nominal mas kawin yg ribet itu pada saat ijab kabul. Dan saya jg ga mau memberatkan calon suami untuk menuhi permintaan yg macem-macem.

Bukan kah rukun nikah itu hanya ada lima:
1. Pengantin lelaki (Suami)
2. Pengantin perempuan (Isteri)
3. Wali
4. Dua orang saksi lelaki
5. Ijab dan kabul (akad nikah)



Tidak perlu ditambah dengan embel-embel mas kawin sekian juta, perhiasan emas sekian gram, resepsi di gedung, atau sederet syarat-syarat lainnya. Setelah menikah pun saya tinggal di kontrakan dua petak, cukup besar buat saya tinggal berdua dengan suami.

Tidur pun hanya beralas kasur lipat tipis, karena belum punya spring bed. Ga jadi masalah karena cinta itu ga harus mewah. Lucu aja kalo ada yg bilang 'hari ginii jangan mau nikah karena cinta, perut lapar ga bisa jadi kenyang krn makan cinta'.

Beneran bikin saya ketawa, karena sampai saat ini kalo lg makan sepiring berdua sama suami, rasanya malah lebih kenyang daripada makan sendiri (ciyuuus, ga boong).

Kalau menurut saya sih nikah itu enaknya susah bareng-bareng, jadi pada saat nanti di kasih senang sm Allah pasti ga akan lupain deh saat berjuang dititik terbawah..

Hidup pas-pasan bukan berarti susah juga. Pas ga ada makanan, tetangga ketok pintu kasih makanan. Pas dompet lagi tipis, eh ternyata dapet arisan. Pas ga punya duit, eh nyetrika ada duit nyelip di kantong.

Ini semua bukan kebetulan, tapi emang udah diatur sama Allah. Hidup sederhana dan selalu bersyukur itu wajib buat kami, mewah itu gimana sudut pandang aja. Mewah buat saya, buat mereka mungkin biasa banget.

Temen-temen yang sudah menemukan tambatan hati, segeralah menikah. Buat yg laki-laki ga perlu nunggu mapan, cukup tunjukan kalo kamu lelaki gagah yg penuh tanggung jawab. Rejeki mah Allah yg ngatur.

Buat yg perempuan, jangan terlalu banyak syarat ini dan itu. Kalau calon kamu udah mapan ya Alhamdulillah. Kalau belum mapan, InsyaAllah menikah bisa jadi jalan buat hidup lebih baik," tulis Nita.



Kisah yang dituturkan Nita ini membuat kita belajar jika menikah itu sebenarnya tidak rumit. Hanya saja tuntutan dan gengsi yang seringkali mempersulit diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment