Untuk Anda yang Pesimis Menghafal Al-Qur’an, Simak Kisah Ini!


Untuk anda yang saat ini pesimis dalam menghafal Al-Qur'an, mungkin penyebabnya hanya satu; yaitu niat Anda yang belum benar-benar karena Allah Ta’ala. Niat inilah yang menjadi penentu utama; apakah seseorang akan menjadi hafizh yang sukses, gagal hanya sekadar menjadi hafizh, atau menjadi hafizh tapi tidak berbekas dalam kehidupan sehari-hari.

Ceritanya, anak-anak tetangga yang saban hari ke rumah mengalami hal serupa. Mereka asyik ketika menghafal ayat pendek, tapi galau saat ayat yang dihafal panjang. Lantas, mereka curhat, “Susah, Om.”

“Panjang, Om.”

Dan keluhan-keluhan lainnya. Termasuk alasan sakit, tidak masuk, diajak jalan orang tua, sekolah, dan lain sebagainya. Namanya saja anak-anak. Mungkin, kita yang berumur alasannya lebih banyak dan lebih tidak masuk akal. Benar, kan?

Namun, ketika diberikan sedikit motivasi, lalu dilanjutkan dengan metode pengulangan, permainan, variasi, dan persaingan dengan teman-temannya, esoknya ada keajaiban.

Meski waktu ngaji bakda Maghrib, kadang mereka datang selepas Ashar. Hanya untuk laporan.

“Om, ayat ini sudah hafal.”

“Om, tadi saya hafalan di sekolah.”

“Om, sudah nambah tiga ayat.”

Dan seterusnya.

Qadarullah, kini mereka sudah kelar 40 ayat an-Naba’ dengan durasi pertemuan hanya 10-15 menit tiap hari.

Usia mereka, kelas satu,dua, tiga, empat, lima, dan enam sekolah dasar. Satu anak kelas satu sekolah menengah pertama. beberapa belum sekolah.

Lantas, mereka terbengong-bengong ketika berhasil hafal dengan lancar, benar, bahkan tidak gagap ketika dites oleh teman-temannya untuk melanjutkan ayat.

Di antara hal yang unik, mereka semua bisa menghafal, mulai yang paling kecil hingga yang paling besar, mulai dari yang belum kenal huruf hijaiyah, baru kenal, sampai yang bisa membaca dengan terbata-bata danlancar bacaannya.

Kata mereka, “Kok bisa hafal ya, Om? Padahal kan ayat terakhirnya panjang-panjang.”

“Kok bisa hafal ya, Om? Padahal kan susah.”

“Tadinya saya malas ngaji. Sekarang gak seru kalau libur ngaji. Pingin ngaji terus.”

Sobat, al-Qur’an itu diberikan oleh Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya. Usaha kita hanya sebentuk kesungguhan. Apakah niat kita sudah benar-benar karena-Nya.

Seringkali, saya malu kepada anak-anak itu. Bukan saya gurunya, merekalah yang mengajarkan kepada saya banyak ilmu.

Wallahu a’lam.

Sumber: kisahikmah
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment