Nasib Miris Mantan Kombatan 'GAM'


Pria muda itu tertatih-tatih memasuki Warkop Solong Ulee Kareng, Minggu sore 8 Mei 2015. Kaki kanannya pincang. Seisi ruangan memandangnya dengan tatapan iba.

Beberapa pelanggan bahkan mulai membuka dompet untuk mencari uang receh untuk diberikan kepada sosok tersebut. Mereka meletakan uang receh ribuan tersebut di sudut meja. Saat pria muda tadi mendekat, beberapa pelanggan berdiri dan menyerahkan uang koin. Mereka mengira pria muda tersebut adalah pengemis. Namun sang pemuda tadi dengan sikap halus menolak-nya.

“Meaf. Ulon tuan kon pengemis (Maaf. Saya bukan pengemis-red),” ujarnya yang membuat para pelanggan Warkop tersebut terkejut.

Beberapa pelanggan yang sadar dengan suasana langsung meminta maaf. “Tak apa. Saya sudah biasa dilecehkan,” kata pria muda tadi sambil terus berlalu.

Pria ini kemudian memilih duduk di depan mediaaceh.co.

Ya, pria muda berkaki pincang tadi adalah Jefry Wardi atau akrab dipanggil Agam. Pria kelahiran 1 Januari 1982 ini merupakan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Saya bergabung dengan GAM pada 1999 dengan latihan di Batee Pila. Namun naas, pada 2004 saya tertembak. Saya tertembak saat pengepungan di Nisam, Paya Cot Trieng,” ujar Jefry Wardi.

“Saya tertembak di perut dan di kaki. Waktu itu saya pikir sudah mati,” kata pria yang akrab disapa Agam lagi.

Dalam keadaan tak sadar, katanya, dirinya kemudian dibawa berobat ke RSUZA.

“Saya sudah dioperasi 5 kali sejak tertembak hingga sekarang. Satu kali untuk perut. 3 kali untuk kaki di RSUZA dan terakhir di Solo. Saya diberangkatkan ke Solo atas bantuan Teungku Muharuddin, ketua DPR Aceh,” ujar Agam.

“Setiap operasi, tulang saya dipotong hingga akhirnya kaki kanan lebih pendek dari kaki kiri,” katanya.

Kata Agam, perjalanan hidupnya sangat berliku dan penuh rintangan. “Usai dioperasi di RSUZA, saya ditahan di penjara Lhokseumawe hingga perjanjian damai dan dibebaskan sebagai Tapol. Sebelumnya, pada tahun 2000, saya juga pernah ditahan di penjara Hindia. Pahit getirnya penjara sudah saya rasakan,” ujar pria murah senyum ini.

Kata Agam, demikian juga dengan kehidupan rumah tangganya. Dirinya menikah pada tahun 2007 dan memiliki 2 anak.


“Sekarang saya dan istri sudah pisah. Pisahnya usai lebaran haji lalu. Anak dan istri kini tinggal di Peureulak, kabupaten Aceh Timur. Sedangkan saya bertahan di Banda Aceh untuk pengobatan,” ujarya dengan wajah sedih.

Agam mengaku saat ini tinggal di rumah rekannya sesama mantan kombatan GAM di Banda Aceh. Untuk bertahan hidup, kini dirinya hana bisa berharap bantuan dari rekan-rekannya yang sudah sukses.

“Namun saya sangat berharap ada pekerjaan tetap. Kalau ada yang ingin membantu, bisa bantuan kios serta usaha lainnya untuk saya memulai hidup, tentu akan sangat membantu. Saya tak ingin mengemis tapi malah dikira pengemis. Pernah suatu kali saya ingin membayar uang, tapi malah dikira pengemis,” ujarnya dengan tersenyum.

Kini, kata Agam, setelah serangkaian operasi, kaki kanannya masih terasa nyeri.

“Sekarang kaki saya harus kembali operasi. Antara amputasi atau perpanjangan tulang. Karena tulang sekarang infeksi. Kalau ada uang, saya ingin kembali operasi. Tak masalah kalau dipotong, ini karena memang sakit sekali,” katanya.

“Harapan lon bagah puleh dan bisa berjalan,” ujarnya lagi. (mac)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment