10 Hal Ini yang Bikin Kamu Harus Bangga Pernah Jadi Anak Pondok Pesantren


Bagi para orangtua yang bergama Islam, banyak di antara mereka yang memilih menyekolahkan anak ke pondok pesantren. Bukan berarti konvensional, banyak juga pondok pesantren modern yang justru lebih unggul dibandingkan sekolah umum.

Memilih masuk pondok pesantren justru memberikan banyak manfaat. Apa saja? Berikut 10 alasan kenapa kamu patut bangga jadi anak pesantren atau kamu perlu menyekolahkan anak ke pondok pesantren kelak.

1. Pondok pesantren tidak hanya mengajarkan kecerdasan intelektual, tapi juga ilmu agama yang bermanfaat untuk kehidupan mendatang.


Berbeda dengan sekolah umum, siswa di pondok pesantren tidak hanya diajarkan untuk mengejar kecerdasan intelektual (IQ). Pondok pesantren juga menekankan kematangan emosional dan spiritual (EQ & SQ). Selain matang secara logika, siswa di pondok pesantren juga memiliki kecerdasan mengelola emosi dan kebutuhan batin.

2. Tanpa meninggalkan pendidikan internasional, pondok pesantren juga mengajarkan arti penting kearifan lokal.


Gak hanya memikirkan pendidikan internasional saja, mereka juga merumuskan kurikulum pendidikan lokal untuk merawat kebudayaan sendiri. Pondok pesantren biasanya didirikan dengan memperhatikan konteks budaya masyarakat setempat.

3. Belajar di pesantren juga membuat ikatan kekeluargaan jadi lebih dalam. Rasa empati juga banyak ditempa di sini.


Jangan ragu terhadap ikatan kekeluargaan di pondok pesantren. Kehidupan bersama yang dijalani oleh para siswa, membuat mereka terbiasa untuk membangun atmosfer kekeluargaan dan mendidik rasa empati. Hal ini karena hubungan antar individu di pondok pesantren tidak hanya terjadi sewaktu pelajaran, tetapi juga kehidupan sehari-hari.

4. Pondok pesantren menanamkan budaya menghormati guru.


Meskipun semua institusi pendidikan mengajarkan hal serupa, namun pondok pesantren membawanya ke level yang lebih jauh. Guru benar-benar dianggap sebagai orang yang menyampaikan ilmu. Tanpa guru, kehidupan manusia akan tersesat. Dan hanya di pondok pesantren, seorang benar-benar dihormati.

5. Tak dipungkiri, belajar di pondok pesantren membuat anak-anak lebih terfokus untuk belajar.


Hal ini karena budaya dalam pondok pesantren yang menjauhi kehidupan duniawi. Alhasil kabar soal tren terbaru sangat jarang sampai di telinga para penghuni pondok. Berita yang mereka juga lebih tersaring. Jadi hanya berita yang memang diperlukan yang akan disampaikan. Karena itu, mereka menjadi terfokus untuk belajar.

6. Dengan hidup di pesantren, anak bisa terbiasa hidup hemat. Gak heran, kerasnya hidup di masa depan jadi lebih gampang dihadapi.


Anak pondok pesatren biasanya menghindari hidup foya-foya. Jangankan mau foya-foya, bawa uang berlebihan saja mungkin langsung diambil pengawas pondok. Hidup hemat dan susah pun haru dijalani. Dan istimewanya, saat ada rejeki lebih, anak pondok pesantren akan dipaksa untuk berbagi dengan siswa lain.

7. Kerja keras adalah menu sehari-hari di pondok pesantren. Bukankah ini modal utama untuk menghadapi hidup?


Disiplin adalah menu rutin di pondok pesantren. Selain itu aktivitas fisiknya pun berbagai macam; olahraga, kerja bakti, pengabdian sosial dan lain-lain. Jangan bayangkan hidup di pondok pesantren cuma ngaji, sholat, tidur dan makan ya. Acaranya padat!

8. Tempaan mental yang luar biasa membuat anak lebih matang dan jadi pribadi yang kuat.


Berpuasa, beribadah, kerja fisik, belajar adalah hal-hal yang dihadapi setiap hari. Konsistensi menghadapi aktivitas tersebut selama bertahun-tahun akan menempa mental menjadi baja. Mereka dipaksa untuk tidak mudah putus asa, tidak gampang galau dan cengeng. Gak heran, biasanya lulusan pondok pesantren punya kapasitas yang lebih besar untuk menjadi pemimpin.

9. Saat bicara tentang Islam, ilmu anak pondok pesantren juga lebih mumpuni dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.


Ilmu agama yang anak-anak pondok pesantren dapatkan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ilmu agama Islam yang mereka dapatkan juga lebih mumpuni.

10. Anak pondok pesantren terbiasa dengan perbedaan yang sangat beragam. Gak ada kata egois dan keras kepala.


Perbedaan ekonomi, sosial dan budaya melebur atas nama belajar bersama. Anak pondok pesantren akan belajar yang namanya ber-Bhinneka Tunggal Ika!

Nah, apakah kamu salah satu mantan anak pondok pesantren? (itc)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment