Saat Doa “Mengalahkan” Diagnosa Tiga Dokter


Selama masa kehamilan, saya selalu rutin memeriksakan perkembangan janin di puskesmas terdekat. Bulan pertama hingga bulan ketujuh kehamilan, saat ke puskesmas untuk cek rutin kehamilan, tidak ada masalah. Begitu pula dengan organ janin.

Memasuki bulan kedelapan. Saya bersama dua orang teman yang juga dalam masa kehamilan trimester akhir, mendatangi salah satu rumah sakit (RS) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Ketika pemeriksaan USG berlangsung, sang dokter menginformasikan bahwa detak jantung sang janin saya begitu cepat melebihi normalnya, serta ada kelainan di jantung.

Hati ibu siapa yang tidak merasakan kegoncangan dahsyat mendengar kabar kelainan janinnya. Tak terkecuali saya yang sedang mengandung anak kedua ini. Air mata seketika tumpah seiring kata-kata dokter yang menyelinap ke telinga.

Untuk lebih memastikan lagi diagnosanya, sang dokter merujuk ke RS lain dengan fasilitas lengkap pemeriksaan USG 4 dimensi, tepatnya pada dokter spesialis janin.

Esok hari, saya bersama suami menuju RS Umum, langsung ke ruang pemeriksaan USG. Pemeriksaan pun berlangsung. Ternyata hasilnya sama dengan pemeriksaan awal; detak jantung janin di atas normal terbilang cukup kencang.

Akhirnya saya dirujuk lagi ke tempat lain, juga spesialis janin. Esok hari saya bersegera ke tempat yang disebutkan. Sambil terus berdoa agar ada perubahan diagnosa. Akan tetapi, setelah pemeriksaan, hasilnya tetap sama.

Dokter ketiga ini pun menyampaikan bahwa ada kelainan pada kutub jantung janin dalam rahimku. Disebutkan telah terjadi pembesaran dan bocor pada jantung.

Terpukul tapi Tawakkal

Saran selanjutnya dari dokter pun di luar perkiraan kami. Pilihan yang diberikan oleh dokter untuk saya melakukan proses persalinan adalah di Jawa atau Sulawesi Selatan (Sulsel). Alasannya, peralatan medis di RS se-Kupang belum memadai, sedangkan saat persalinan butuh penanganan khusus.

Sementara itu, berbagai informasi pun datang silih berganti. Di antaranya, janin yang memiliki kelainan jantung bocor, harapan bayi untuk hidup sangat sedikit.

Suami saya sebenarnya sangat terpukul akan kabar tersebut. Namun kami memasrahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Bahwa dimana pun kita berada dan itu memanglah takdir-Nya, maka kita sebagai hamba tidak bisa menolaknya.

Suami pun mempertimbangkan bahwa kita harus tetap berikhtiar dengan mengikuti anjuran dokter.

Kami pun melaksanakan shalat istikharah serta memusyawarahkannya antara suami dan istri. Setelah itu kami putuskan untuk menunggu masa persalinan di Sulsel, mengingat dekatnya keluarga yang bisa memberikan penguatan.

Saya pun memasrahkan masalah ini pada-Nya dan terus berdoa, “Ya Allah, kuatkanlah kami dan mudahkanlah segala urusan kami!”

Diagnosa Berbeda

Pada 1 November 2015, kami sekeluarga tiba di Makassar, Sulsel, dan langsung menjalani check up yang ditangani oleh 3 orang dokter sekaligus.

Dalam pemeriksaan, saya tidak berani menatap layar tepat di hadapanku. Ketika dokter memulai memeriksa semuanya, saya hanya memejamkan mata seiring aliran air mata, serta dzikir yang senantiasa membasahi lisan.

Saat mulai pemeriksaan ke daerah jantung janin, sang dokter pun mulai mengukur jantungnya. Tiba-tiba saja suara dokter yang pelan terdengar seakan susah dipercaya.

Bagaimana tidak. Dokter menyampaikan kalau jantung si janin normal saja dan tidak ada masalah. Diagnosa yang berbeda setelah tiga kali pemeriksaan dengan yang sebelumnya di Kupang, membuat saya tidak percaya begitu saja.

Akhirnya kubuka mata dan memberanikan diri untuk bertanya, “Jantungnya gimana, Dok? Besarkah? Robekkah?”

Dokter pun mengukur jantung janin kembali untuk memastikan. Tetap saja ia sampaikan bahwa jantung janin normal saja, tak terjadi apa-apa.

Karena masih shock dengan diagnosa dokter spesialis janin di NTT, serta tiga kali USG dengan hasil yang sama, maka saya berulang kali menanyakan apa yang disampaikan dokter barusan.

Tapi faktanya memang demikian, janinku sehat-sehat saja. Masya Allah! Keajaiban yang menyapaku di ruang tempatku memasrahkan diri pada-Nya, kembali menuntun lisan dan jiwa ini berucap syukur, Alhamdulillah.

Di sisi lain, saya menyadari dan kembali mengingat bahwa dokter hanyalah manusia. Dengan bantuan alat yang juga buatan manusia, bisa saja ada kekeliruan diagnosa. Sehingga saya tetap memasrahkan segalanya kepada Sang Maha Kuasa akan “diagnosa”-Nya yang pasti.

Dokter pun mengabarkan bahwa persalinan bisa normal. Akhirnya saya memilih untuk melahirkan di rumah orangtua di Malakaji, Jeneponto, Sulsel. Tepat tiga hari setelah tiba di rumah, lahirlah sang calon mujahidah pada tanggal 5 November 2015.

Alhamdulillah, atas pertolongan-Nya, anak kami sehat wal afiat hingga sekarang. Semoga ia kelak menjadi anak sholehah yang qorrotu’ayun dalam keluarga kami. Aamiin!* Sahlah al-Ghumaishaa’, seperti yang diceritakan oleh Ummu Mahfuudz, daiyah di Kupang, NTT.

Sumber: hidayatullah
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment